Rabu, 18 November 2009

power point pencemaran udara

MAKALAH
PENCEMARAN UDARA
Diajukan sebagai salah tugas kelompok pada mata kuliah kimia lingkungan




Oleh:
Kelompok VI
Restu Fajarwati Harisma (206200957)
Siti Fadilah Nur (206200966)
Pendidikan Kimia B/VII

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2009



BAB I
PENDAHULUAN
Habitat kita tampaknya tidak terbatas telah lama telah diperhitungkan atas lsitas penyerapan limbah yang semestinya sangat besar. Pencemaran terjadi pada saat senyawaan-senyawaan yang dihasilkan dari kegiatan manusia ditambahkan kelingkungan, menyebabkan perubahan yang buruk terhadap kekhasan fisik, kimia, biologis dan estesis. Tentu saja, semua makhluk hidup bukan manusia juga menghasilkan limbah yang dilepaskan kelingkungan, namun pada umumnya dianggap bagian dari sistem alamiah, apakah mereka memiliki pengaruh buruk atau tidak. Pencemaran biasanya dianggap sebagai hasil dari tindakan manusia. Dengan demikian, proses-proses alamiah dapat terjadi dalam lingkungan alamiah yang sangat mirip dengan proses-proses yang terjadi karena pencemar.
Penting dicatat bahwa keberadaan pencemaran memerlukan suatu penilaian subjektif, apakah pengaruh buruk terjadi atau tidak. Kenyataannya, terdapat pertentangan pendapat dalam hal ini. Sebagai contoh, pada saat hara makanan tumbuhan dilepaskan perairan, menyebabkan pertambahan jumlah tumbuhan yang ada dan sering kali penggabugannya memperbanyak jumlah ikan. Jadi, nelayan akan menganggap tindakan ini menguntungkan dan dengan demikkian bukanlah pencemaran. Sebaliknya, pihak pengelola pasokan air minum mungkin menemukan bahwa kandungan ganggang dalam air akan bertambah dan pengukuran penanggulangannya diperlukan untuk mendapatkan kualitas air minum yang memadai. Jadi pihak pengelola akan menganggap bahwa pencemaran telah terjadi. Karena penilaian subjektif dilakukan oleh manusia, "faktor manusia”, merupakan haI yang kritis dalam pengelolaan pencemaran.
Linkungan atmosfer tediri dari campuran gas yang meliputi kira-kira 10-16 km dari permukaan bumi. Tetdiri dari oksigen (21%), nitrogen (7k%), karbon dioksida (sekitar 0,03%), argon (kurang dari 1%) dan gas runutan lainya serta uap air yang jumlahnya beragam. Komposisi ini telah terbentuk secara perlahan-lahan sejak awal kehidupan bumi, sebelum jumlah karbon dioksida jauh melebihi kandungan oksigen. Sejalan dengan evolusi tanaman hijau, karbon dioksida diubah melalui fotosintesis menjadi oksigen atmmosfer dan karbon disimpan dilapisan sedimen.
Suatu campuran heterogen dari zat yang bahaya, seperti debu, garam, dan berbagai gas, memasukin atmosfer dari sumber alamnya dan antropogenik. Tambahan antropogenik yang penting dihasilkan dari penggunaan bahan bakar dari fosil, khususnya dalam mesin pembakaran internal, pembangkit tenaga listrik, dan peleburan bijih-bijih mineral






















BAB II
PENCEMARAN UDARA

A . Pengertian Pencemaran Udara
Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara telah mengalami perubahan. Udara yang dulunya segar, kini kering dan kotor. Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan pencemaran udara, yaitu masuknya zat pencemar (berbentuk gas-gas dan partikel kecil/aerosol) ke dalam udara.
Pencemaran udara adalah peristiwa masuknya, atau tercampurnya, polutan (unsur-unsur berbahaya) ke dalam lapisan udara (atmosfer) yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas udara (lingkungan).
Pencemaran dapat terjadi dimana-mana. Bila pencemaran tersebut terjadi di dalam rumah, di ruang-ruang sekolah ataupun di ruang-ruang perkantoran maka disebut sebagai pencemaran dalam ruang (indoor pollution). Sedangkan bila pencemarannya terjadi di lingkungan rumah, perkotaan, bahkan regional maka disebut sebagai pencemaran di luar ruang (outdoor pollution).
Secara umum pencemaran udara diartikan sebagai udara yang mengandung satu atau beberapa zat kimia dalam konsentrasi tinggi sehingga menganganggu manusia, hewan, tumbuhan dan benda-benda lain dalam lingkungan.
Berdasarkan prosesterjadinya terdapat dua tipe utama pencemaran udara yaitu polutan primer dan polutan sekunder. Polutan primer adalah zat kimia yang masuk secara langsung ke udara dalam konsentrasi yang merugikan manusia. Zat kimia tersebut dapat berupa komponen alami udara yang konsentrasinya meningkat, misalnya CO2, ataupun zat baru yang tidak terdapat dalam udara normal, misalnya timah hitam.
Polutan sekunder adalah zat kimia yang merugikan manusia yang terbentuk dalam atmosfer melelui reaksi kimia di antara komponen udara yang ada. Beratnya polusi udara tidak hanya didasarkan pada konsentrasi zat saja, tetapi juga harus memperhatikan factor lain, misalnya ambang batas tiap zat, adanya sinergisme dan kumulasi akibat rantai makanan. Di samping itu, sulit ditentukan secara langsung adanya hubungan sebab akibat antara suatu zat dengan timbulnya suatu penyakit.
Pencamaran udara sudah dikenal sejak zaman romawi, tetapi jumlahnya terbatas dan tidak merata pada tempat lain. Tahun 1276, king Edward I telah mengeluarkan peraturan untuk melarang pemakaian sejenis batubara tertentu karena terlalu mengotori udara. Pada tahun 1952, di London terjadi musibah pencemaran udara akibat adanya "amog" (smoke + fog = asap + kabut) yang oleh Prof.Otto Soemarwoto (1985) disebut "asbut", yang menyebabkan 4000 penduduk meninggal. Juga di Amerika, yaitu di Pennsylvania tahun 1948, 6000 orang menderita penyakit akibat polusi udara dan 20 orang di antaranya meninggal.
Sebagian besar udara (95%) terdapat dalam lapisan troposfer, sedangkan lapisan ozon terdapat pada stratosfer. Polutan udara dalam stratosfer bergerak kearah vertical atau horizontal ataupun bereaksi satu dengan yang liannya pada lapisan stratosfer tersebut. Dengan melalui hujan, polutan tersebut jatuh ke bumi, sedangkan polutan yang tidak larut dalam air, misalnya Chlorofluorocarbon, bahkan naik kelapisan ozon dan memecahkan atau mengurangi lapisan ozon. Chlorofluorocarbon banyak digunakan sebagai bahan bakar dalam kaleng semprot, alat pendingin (air conditioner) dan almari es. Bila Chlorofluorocarbon terkena sinar ultra violet, ikatan Cl di lepaskan dan Cl- inilah yang merusak lapisan ozon, dengan cara mengikat satu atom O dari ozon.
Pesawat super sonic yang terbang langsung ke stratosfer juga dapat merusak lapisan ozon karena mengeluarkan dua kontaminan yaitu air dan oksida nitrogen. Akibatnya radikal sinar ultraviolet makin banyak masuk kebumi dan menyebabkan kenaikan suhu rata-rata hamper 1oC, serta meningkatkan kangker kulit.
Definisi pencemaran udara menurut peraturan pemerintahan No.29 tahun 1986adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energy dan atau komponen lain ke udara dan atau berubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak terdapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Dengan adanya peraturan pemerintah tersebut mak pada pelaksanaannya sudah dibuat ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan hal tersebut seperti misalnya, ketentuan umum untuk baku mutu udara ambient adalah batas yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di udara namun tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan, dan atau harta benda; sedangkan bahan baku udara emisi adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar untuk dikeluarkan dari sumber pencemaran udara, sehingga tidak mengakibatkan dilampuinya baku mutu udara ambien. Selain itu pemerintah mengeluarkan ketentuan parameter apa saja yang harus diuji dan berapa nilainya untuk menentukan kedua baku mutu udara tersebut.
Bila pemerikasaan dilakukan untuk sampel udara disuatu wilayah misalnya di terminal bus dan ternyata hasilnya melebihi standar nilai yang dikeluarkan pemerintah untuk baku mutu udara ambien, berarti sudahn terjadi pencemaran udara di terminal tersebut. Pencemaran udara terjadi di terminal karena disana banyak penyebab pencemaran udara yaitu perubahan bahan bakar bensin yang berasal dari berbagai jenis kendaraan bermotor. Ada berbagai gas yang dikeluarkan oleh knalpot kendaraan bermotor antara lain: gas CO2, NO2 dan NO yang dikenal dengan Nox, SO2, CO (kalau pembakaran tidak sempurna). Kendaraan bermotor merupakan alat transformasi, sehingga selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan selam diperjalanan mengeluarkan hasil pembakarannya. Oleh karena itu kendaraan bermotor disebut sebagai sumber yang bergerak dari bahan pencemar.
Akhir-akhir ini dengan makin meningkatnya pencemaran udara terutama di kota-kota besar seperi Jakarta, sering dilakukan uji emisi untuk kendaraan bermotor. Pemeriksaan langsung dilakukan kepada udara yang dikeluarkan knalpot mobil. Untuk melihat apakah emisi yang dikeluarkan oleh sebuah mobil sudah memenuhi ketentuan maka hasil pemeriksaan dibandingkan dengan baku mutu udara emisi untuk sumber yang bergerak yang dikeluarkan pemerintah.
Selain kendaraan bermotor, pabrik-pabrik atau industry merupakan sumber bahan pencemar udara yang tidak kalah pentingnya dan untuk indusrti-industri disebut sumber tidak bergerak. Berbeda dengan jenis bahan pencemar yang dikeluarkan kendaraan bermotor, untuk industry terdapat keberagaman dari bahan pencemarannya tergantung dari jenis bahan baku dan produk apa yang digunakan dan dihasilkan oleh industry yang bersangkutan. Dengan meningkatnya jumlah industry di perkotaan, maka tidak dapat disangkal lagi kualitas udaranya akan makin menurun. Oleh karena itu dikenal dengan istilah: grey air cities, yaitu udara didaerah atau kota yang berwarna keabu-abuan (cirri untuk kota yang tercemar oleh asap industri) dan brown air cities, yaitu udara dikota-kota yang berwarna kecoklat-coklatan (cirri untuk yang tercemar oleh asap-asap kendaraan bermotor).
Bentuk-bentuk zat-zat pencemaran udara

B. Faktor-faktor penyebab pencemaran udara :
1. Kecepatan kendaraan.
Arus lalu lintas kendaraan bermotor dengan kecepatan rata-rata rendah akan menyebabkan pengingkatan konsentrasi terutama partikel karbon dioksida (CO) dan Hidrokarbon (HC) yang lebih berbahaya mengganggu kesehatan daripada dengan kecepatan tinggi, dimana juga akan memproduksi lebih banyak emisi gas buang yang mengandung Nitrogen Oksid (NOx)
2. Usia kendaraan yang lama
Mesin kurang berfungsi/sempurna akibat pemeliharaan dan suku cadang kendaraan yang terbatas/tidak diproduksi lagi
3. Kondisi lalu lintas
Volume lalu lintas yang cenderung tinggi memberikan andil terbesar pencemaran udara
4. Kondisi atmosfir
Perubahan iklim atmosfir seperti menimbulkan panas global, efek rumah kaca, dll

1. Macam-macam polutan udara
Polutan yang terdapat di udara berbentuk gas dan partikel-partikel yang secara garis besarnya terdiri dari:
a. Oksida karbon yaitu CO dan CO2.
1) CO merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tudak berasa dan tidak merangsang. KTD dan CO adalah 25ppm, sedang NAB nya 100ppm. Dengan kadar 120ppm dan waktu kontak 1jam, telah menimbulkan keracunan; dan kadar CO sebesar 1000ppm dengan kontak selama satu jam orang akan pingsan; dan bila waktu kontaknya empat jam dapat menimbulkan kematian. Di terminal kebun kota bandung pada waktu bubar kantor, kadar CO dapat mencapai 110ppm (Soenaryo Masrun, 1997).
Sumber pencemaran CO adalah pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar fosil, pembakaran sampah serta hutan. Gas CO juga terdapat dalam asap rokok, bahan bakar bensin, tiap 1kg bensin dapat mengeluarkan CO sebanyak 0,25kg. keracunan CO dapat mengganggu pernafasan, denyut nadi, tekanan darah, serta reflex saraf. Timbulnya gangguan pernafasan ini karena CO mempunyai afinitas dengan hemoglobin sebesar 250 kali afinitas hemoglobin dengan O2. Karena itu CO akan mengusir oksigen dari ikatannya dengan hemoglobin dan membentuk ikatan HbCO. Akibatnya tubuh kekurangan oksigen. Kadar HbCO dalam darah sebesar 5% menunjukkan gejala menurunnya kemampuan berhitung seseorang, karena otak kekurangan oksigen. Secar normal, kadar HbCO dalam kadar -0,4% dan kadar gas CO yang dikeluarkan dari udara pernafasan sebesar 3,2ppm. Gas CO dapat mengadakan sinergisme dengan gas H2S, dan NO2, sehingga toksisitas gas-gas tersebut meningkatkan beberapa kali lipatan.
2) Gas CO2 secara normal terdapat dalam udara dengan kadar rendah. Gas CO2 yang dihasilkan dari proses respirasi mahluk hidup lebih kecil jumlahnya dari pada hasil pembakaran minyak dan gas bumi serta pembakaran yang lainnya akibat aktifitas manusia. Kadar gas CO2 yang terlalu banyak akan terkumpul di atmosfer dan menyelubungi bumi. Keadaan ini akan menimbulkan gangguan lingkungan. Sinar infra merah yang merupakan bagian dari cahaya matahari merupakan pancaran panas yang dapat menembus CO2. Tetapi CO mempunyai kemampuan untuk menyerap dan memancarkan kembali sinar infra merah tersebut dengan panjang gelombang yang berbeda. Akibatnya suhu atmosfer lebih hangat. Sementara itu, pancaran panas dari sinar infra merah yang sampai ke bumi diserap oleh tanah dan benda lain pada permukaan bumi. Kemudian panas ini di kembalikan dalam bentuk radiasi infra merah dan panjang gelombang yang lebih besar (4-100 mikrometer). Sebahagian dari gas rumah kaca, yaitu CO2, uap air dan Chlorofluorocarbon menyerap pancaran panas ini masing-masing pada panjang gelombang yabg berbeda. Akibatnya rata-rata suhu gelombang bumi meningkat. Gejal ini disebut efek rumah kaca (greenhouse affect). Efek rumah kaca menyebabkan mencairnya lapisan es di daerah kutub yang mengakibatkan permukaan air laut naik, perubahan pola hujan dan angin, serta perubahan perilaku iklim pada umumnya, yang selanjutnya mempengaruhi kehidupan.

b. Polutan yang berupa oksida belerang yaitu SO2 dan SO3
1) SO2 serupa gas yang tidak berwarna tetapi mempunyai bau yang menyengat. Pencemaran ini bersumber dari gunung berapi, pembakaran batu bara yang mengandung belerang, asap berbagai industry serta pengolahan biji sulfide. SO2 menimbulkan iritasi pada mata dan gangguan saluran pernafasan. Juga menimbulkan korosi pada logam dan korosi pada bahan bangunan yang mengandung karbonat, misalnya marmer dan di sebut "kangker batu". Pada tumbuhan dapat mengakibatkan penyakit kronis yang berupa perubahan warna daun menjadi kuning pucat yng akhirnya gugur. KTD SO2 sebesar 10%ppm, tetapi kebanyakan makhluk hidup akan terganggu dengan kadar SO2 sebesar 1-5ppm. Tumbuhan lebih peka terhadap pencemaran SO2, karena kadar 0,1-0,2ppm telah dapat menimbulkan keracunan. Oleh karena itu tumbuhan dapat digunakan sebagai indicator pencemaran SO2 dalam kota. Bahaya SO2 lebih hebat bila bercampur dengan udar lembab serta dingin. Karena gas ini sangat bercun bagi mikro organisme, maka dapat dimanfaatkan dalam pembuatan fungisida dan pengawetan bir serta makanan lainnya.
2. SO3 terjadi dari SO2 yang bereaksi dengan oksigen. Bila SO3 bereaksi dengan uap air pembentuk H2SO4 yang dengan HNO3 turun bersama hujan dan membentuk "hujan asam", SO2, SO3, serta H2SO4 dan partikel lain dalam udara pembentuk "smog" yang disebut "industrial smog". Polutan ini banyak terjadi dalam daerah industry yang berudara lembab dan dingin. Asap industry yang menggunakan bahan bakar batubara merupakan sumber komponen-komponen penyusun "industry smog" (asbut industri).
Di samping "industry smog " kita mengenal "smog" lainnya yang disebut "photochemical smog". Polutan pembentuknya adalah hidrokarbon dan asap kendaraan bermotor terutama NO dan NO2. Dalam udara kering dan panas serta karena pengaruh ultra violet terjadilah reaksi yang sangat kompleks. NO2 dan hidrokarbon membentuk PAN (peroksiasil nitrat), sedangkan ozon dan hidrokarbon membentuk senyawa aldehid. Semua polutan tersebut berakumulasi membentuk campuran asap-kabut yang berwarna coklat dan disebut " photochemical smog" (asbut fotokimia).
c. Polutan yang berupa oksida Nitrogen, terutama NO2
Dalam industry asam nitrat dan pembakaran bensin dalam motor, timbul gas NO yang bila bereaksi dengan udara berubah menjadi NO2. NO2 merupakan gas yang sangat beracun dan mematikan. Sumber utama polutan ini adalah kendaraan bermotor, sekalipun industry kimia dan pembangkit listrik juga asap rokok merupakan sumber NO2 tetapi jumlahnya lebih kecil. Gangguan yang ditimbulkannya adalah iritasi pada paru-paru, gangguan pernafasan, menghambat pertumbuhan tanaman dan merupakan komponen hujan asam. KTD gas ini sebesar 5ppm, tetapi dalam kadar kurang dari 1ppm yaitu pada asap rokok dapat mengakibatkan terbentuknya senyawa karsinogenik yang menimbulkan kangker terutama pada paru-paru. Secara terpisah polusi udara dan rokok meningkatkan terjadinya bronchitis lebih banyak.
d. Senyawa Hidrokarbon, misalnya metana (CH4), butane (C4H10), benzene (C6H6).
Sumber polutan ini adalah pembakaran yang tidak sempurna, asap kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan pembusukan tanaman. Gangguan yang ditimbulkan adalah melukai system pernafasan, penyebab kangker dan dapat membentuk photochemical smog. Senyawa organic lainnya, bersumber dari daerah pertanian yaitu percikan atau uap pestisida dan herbisida yang membahayakan ikan dan burung pemakan ikan. Dalam tubuh manusia senyawa ini tertimbun dalam lemak yang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
e. Polutan yang berupa partikel baik padat maupun cair (titik uap) misalnya asap, debu dari hasil erosi angin, asbestos, partikel logam Pb, Be dan cadmium. Umumnya mengganggu pernapasan, system saraf dan asbestos dapat menimbulkan kangker. Sumber debu-debu logam tersebut adalh asap kendaraan bermotor serta industry yang menggunakan bahan bakar fosil.
f. Sinar dan subtansi radioaktif baik yang bersumber secara alami dari kerak bumi maupun dari hasil emisi instalasi radioaktif, merupakan polutan yang berbahaya karena dapat menimbulkan gangguan pada sel dan organ tubuh lainnya yaitu berbentuk penyakit kangker dan mutasi sel.
g. Pencemaran suara timbul bila dalam lingkungan terdapat suara yang memiliki kekuatan lebih dari daya tahan manusia terhadap suara yaitu 85 desibel. Sebagai bahan perbandingan, percakapan normal mempunyai kekuatan 15-40 desibel, sedangkan pesawat jet mempunyai kekuatan 150 desibel. Sumber pencemaran suara adalah kendaraan bermotor, mesin pada pabrik, lapangan terbang serta kebisingan lainnya.
h. Polutan panas, bersumber dari semua bentuk pembakaran dan panas matahari yang terperangkap bangunan kota. Pada malam hari udar panas dan polutan akan naik kebagian atas atmosfer sedangkan udara yang lebih ringan dan bersih masuk keatass kota. Fenomena ini dapat terjadi sebaliknya dan disebut inversi thermal; yaitu gejala cuaca yang menyebabkan udara dingin dan tercampur polutan terperangkap oleh lapisan udara panas dekat bumi. Akibatnya polutan tidak dapat menyebar keatas dan tidak dapat keluar dari udar kota industri. Inversi thermal tersebut terjadi karena pengaruh dari polutan SO2, NO2, CO, hydrocarbon dan partikel yang terdapat dalam udara.

C. Pencegahan Pencemaran Udara
Beberapa pencemaran udara yang dapat dilakukan untuk mencegah pencemaran udara adalah:
a. Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil terutama yang banyak mengeluarkan asap serta gas-gass polutan lainnya, serta menggagalkan pemakaian bahan bakar yang tidak mencemarkan lingkungan.
b. Melakukan pengolahan asap sebelum dilepas keudara, misalnya dengan memasang saringan atau bahan penyerap polutan. Gas buangan atau asap dialirkan kedalam air atau larutan penyakit sebelum dibebaskan ke atmosfer . untuk mencegah terjadinya pencemaran panas, gas yang akan dibuang ke udara diturunkan dahulu suhunya. Sedangkan untuk sumber pencemaran yang bergerak, yaitu mobil juga perlu memiliki saringan partikel atau gas-gas lainnya.
c. Membangun cerobong asap yang cukup tinggi hingga asap dapat menembus lapisan inverse thermal agar tidak menambah polutan yang terperangkap di ats kota atau di atas daerah pemukiman.
d. Memilih system transformasi yang efisien dan tidak menimbulkan banyak polutan. Misalnya menggunakan bensin tanpa Pb, menciptakan mesin mobil yang hemat bensin atau mengurangi angkutan pribadi dan menambah angkutan umum.
e. Memperbanyak penghijauan dan taman-taman dalam kota, agar banyak lebih banyak CO2 yang diserap tumbuhan untuk proses fotosintesis. Penghijauan juga bermanfaat uantuk menambah kadar oksigen. Selain itu tumbuhan dapat bermanfaat pula sebagai penahan debu dan partikel lainnya. Bila dalam udara terdapat bahan pencemar yang berbahaya atau kadar tinggi, maka efeknya dapat dilihat lebih dahulu pada tumbuhan, sehingga tumbuhan tersebut merupakan indicator pencemaran.
f. Mendorong terlaksananya peraturan pencegahan pencemaran serta pelaksanaan sanksi bagi para pelanggr aturan.
g. Pencegahan pencemaran suara dilakukan dengan melindungi tubuh dari suara yang keras dan meredam suara pada tempat atau sumber suara.
Alat untuk melindungi tubuh dari suara keras antara lain:
a. Menyumbat telinga, mereduksi suara sekitar 25-30 desibel.
b. Menutup telinga, mereduksi suara sekitar 40 desibel.
c. Topi pelindung telinga, mereduksi suara sebesar 50 desibel.
Untuk mengurangi keras suara di tempat sumber suara antara lain menggunakan "silencer" yang dapat melindungi kebisingan sebesar 10%. Alat peredam suara dapat mengurangi kebisingan sebesar 70 desibel. (Soendjoyo D, 1982)
Zat-zat pencemaran udara terdapat dalam bentuk gas atau partikel (biasanya sebagai bahan-bahan partikulat). Kedua bentuk zat pencemar itu berada di atmosfer secara simultan, tetapi seluruh zat pencemar udara 90% berbentuk gas. Bentuk-bentuk zat pencemar yang sering terdapat dalam atmosfer:
1. Gas : Keadaan gas dari cair atau keadaan padatan.
2. Embun : Tetesan cairan yang sangat halus yang tersuspensi di udara.
3. Uap : Keadaan gas dari zat padat volatile atau cairan.
4. Awan : Uap yang dibentuk pada tempat yang tinggi.
5. Kabut : Awan yang terdapat diketinggian yang rendah.
6. Debu : Padatan yang tersuspensi dalam udara yang dihasilkan dari pemecahan bahan.
7. "size" : Partikel-partikel debu atau garam yang trsuspensi dalam tetes air.
8. Asap : Padatan dalam gas yang berasal dari pembakaran tidak sempurna.
Partikulat bias berupa padatan atau tetes cairan yang sangat halus yang disebut "mist". Partikulat mempunyai bermacam-macam ukuran, bentuk, densitas, dan susunan kimianya. Sumbangannya terdapat zat pencemar udara hanya 10%.
Banyak zat pencemaran primer melakukan reaksi dalam atmosfir menghasilkan zat-zat pencemar sekunder, seperti ozon dengan zat-zat lain membentuk kabut fotokimia. Tetes air misalnya, bergabung dengan asam-asam seperti hydrogen sulfide menghasilkan aerosol asam (partikel-partikel yang tersuspensi dalam gas).
Zat-zat pencemar udara
Gas pencemar Anorganik
Sejumlah bahan pencemar anorganik berbentuk gas masuk ke atmosfir sebagai hasil dari aktivitas manusia. Gas-gas tersebut antara lain: CO, SO2, NO, dan NO2 yang jumlahnya relatif kecil bila dibandingkan gas CO2 dalam atmofir. Gas pencemar organic lainnya adalah: NH3, N2O, N2O5, H2S, Cl2, HCl, dan HF. Sejumlah gas-gas tersebut masuk ke atmosfir sebagai akibat dari aktivitas manusia. Secara global emisi dari karbon monosakarida, belerang oksida, dan nitrogen oksida berkisar antara satu sampai beberapa ratus juta ton per tahun.

Karbon monoksida dan bahayanya bagi kesehatan
Karbon monoksida, CO, dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung karbon dan oleh pembakaran pada tekanan dan suhu tinggi yang terjadi pada mesin. Karbon monoksida dapat juga dihasilkan dari reaksi oksidasi gas metana oleh radikal hidrosil dan dari perombakan/pembusukan tanaman meskipun tidak sebesar yang dihasilkan pembakaran bensin. Pada jam-jam sibuk di daerah perkotaan konsentrasi gas CO bias mencapai 50-100ppm. Tingkat kandungan CO di atmosfer berkorelasi positif dengan padatnya lalu lintas tapi berkorelasi negatif drengan kecepatan angin.
Karbon monoksida dapat mengikat oksigen dari hemoglobin menghasilkan karboksi hemoglobin:
O2Hb + CO → COHb + O2
Pengaruh dari reduksi ini mengakibatkan kapasitas darah mengangkut oksigen menurun. Tingkat kandungan COHb dalam darah naik dengan kenaiakan CO atmosfer dan aktifitas fisik individu. Adanya gas CO dalam darah memberikan berbagai pengaruh atau gangguan yang sesuai dengan tingkat konsentrasinya, seperti tampak pada table 5.6. ke naikan CO mengakibatkan menurunnya fungsi system saraf sentral, perubahan-perubahan fungsi jantung dan paru-paru, mengantuk, koma, sesak nafas, dan akhirnya meninggal.
Table 5.6 pengaruh kenaikan konsentrasi CO dalam darah
Konsentrasi CO, ppm Persen konvensi
O2Hb → COHb Pengaruh terhadap manusia
10 2 Gangguan pernafasan, penglihatan
100 15 Sakit kepala, pusing, capai
250 32 Kehilangan kesadaran
750 60 Setelah beberapa jam mati
1000 66 Cepat mati
Sumber: Crosby,1998
Dengan adanya pengaruh yang cukup membahayakan dari gas CO terutama ditempat sumber (beberapa kejadian orang meninggal karena keracunan gas CO dalam mobil), maka uji emisi perlu dilakukan untuk setiap mobil, emisi dari gas CO dapat diturunkan dengan pengaturan pemasukan udara. Seperti perbandingan bahan bakar (berat : berat) kira-kira 16 : 1 dalam pembakaran mesin mobil diperkirakan tidak akan menghasilkan.
Mobil-mobil yang moderen menggunakan "catalytic Exhaust Reaktors" untuk menurunkan emisi CO. kelebihan udara dipompakan kedalam tempat pembuangan gas, dan campuran tersebut dilewatkan melalui ruang katalitik dalam system pembuangan dimana akan terjadi oksidasi dari CO menjadi CO2.
Keberadaan atau umur dari karbon monoksida di atmosfer tidak lama hanya kira-kira 4 bulan. Hal ini terjadi karena karbon monoksida di atmosfer dihilangkan melalui reaksi dengan radikal hidroksil, HO.:
CO + HO. → CO2 + H
Reaksi menghasilkan radikal hidroperoksil
O2 + H + M → HOO. + M
Yang kemungkinan radikal NO. dihasilkan kembali dari radikal hidrokferosil (NOO.) melalui reaksi:
HOO. + NO → NO. + NO2
HOO. + HOO. → H2O2 + O2
Reaksi terakhir terjadi dengan disosiasi dari H2O2 melalui reaksi photo kimia dan menghasilkan kembali HO.:
H2O2 + hv → 2HO.
Gas metana juga terlibat dalam reaksi siklus atmosfer yang berhubungan dengan CO, HO., dan CH4.
CH4 + HO. → H3C + H2O
CO + HO → CO2 + H
H + O2 → HOO.
Radiakl hidrokperoksil selanjutnya menghasilkan kembali HO. Seperti reaksi yang sudah di tulis sebelumnya.
Mikroorganisme tanah melalui aktifitasnya dapat menghilanhkan CO dari atmosfer, oleh karena itu, tanah merupakan tempat penampungan dari karbon monoksida.
Belerang dioksida dan bahayanya bagi kesehatan
Secara global senyawa-senyawa belerang dalam jumlah cukup besar masuk keatmosfer dalam jumlah cukup besar masuk keatmosfer melalui aktivitas manusia sekitar 100juta metric ton belerang setiap tahunnya, terutama sebagai SO2 dari pembakaran batubara dan gas buang pembakaran bensin. Jumlah yang cukup besar dari senyawa belerang juga dihasilkan oleh kegiatan gunung berapi dalam bentuk H2S, proses perombakan bahan organic, dan reduksi sulfat secara biologis. Jumlah yang dihasilkan proses biologis ini dapat mencapai kurang lebih 1 juta metric ton H2S pertahun.
Sebagian dari H2S yang mencapai atmosfer secar cepat diubah menjadi SO2 melalui reaksi:
H2S + 3/2 O2 → SO2 + H2O
Reaksi bermula dari pelepasan ion hydrogen oleh radikal hidroksil,
H2S + HO. → HS. + H2O
Yang kemudian dilanjutkan dengan reaksi berikut ini menghasilkan SO2
Hampir setengahnya dari belerang yang terkandung dalam batubara dalam bentuk pyrite, FeS2, dan setengahnya lagi dalam bentuk sulfur organic. Sulfur dioksida yang dihasilkan oleh perubahan pyrite melalui reaksi sebagai berikut:
Pada dasarnya, semua sulfur yang memasuki atmosfer dirubah dalam bentuk SO2, dan hanya 1% atau 2% saja sebagai SO3.
Walaupun SO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia hanya merupakan bagian kecil dari SO2 yang ada diatmosfer, tetapi pengaruhnya sangat serius karena SO2 langsungdapat meracuni makhluk disekitarnya. Belerang dioksida yang ada diatmosfer menyebabkan iritasi saluran pernafasan dan kenaikan sekresi mucus. Orang yang mempunyai pernafasan lemah sangat peka terhadap kandungan SO2 yang tinggi di atmosfer. Dengan konsentrasi 500ppm, SO2 dapat menyebabkan kematian pada manusia.
Pencemaran yang cukup tinggi oleh SO2 telah menimbulkan malapetaka yang cukup serius. Seperti yang terjadi dilembah sungai Nerse Belgia pada 1930 tingkat kandungan SO2 di udara mencapai 38ppm dan menyebabkan toksinitas akut. Selama periode itu menyebabkan kematian 60 orang dan sejumlah ternak sapi mati. Hal yang sama beberapa tahun kemudian terjadi di Donov, Persylvania yang menyebabkan 20 orang meninggal. Yang paling mengerikan terjadi pada tahun 1952 di London, selama 5 hari terjadi perubahan temperature dan pembentukan kabut yang menyebabkan kematian antara 3500 sampai 4000 penduduk, peristiwa ini di kenal dengan "London smog" (kabut asap kota London). Hasil autopsy menyatakan bahwa kematian disebabkan oleh iritasi saluran nafas.
Belerang dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Adanya gas ini pada konsentrasi tinggi dapat membunuh jaringan pada daun (necrosis daun). P[inggiran daun dan daerah di antara tulang-tulang daun rusuk. Secara kronis SO2 menyebabkan terjadinya Khlorosis. Kerusakan tanaman ini akan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara. Belerang dioksida di atmosfer akan diubah menjadi asam sulfat. Oleh karena itu di daerah dengan adanya pencemaran oleh SO2 yang cukup tinggi, tanaman akan rusak oleh aerosol asam sulfat.
Kerusakan lebih lanjut dialami oleh bangunan yang bahan-bahannya seperti, batu kapur, batu pualam, dolomite akan di rusak oleh SO2 dari udar. Efek dari kerusakan ini akan Nampak pada penampilannya, integrasi struktur, dan umur dari gedung tersebut. Dolomite, suatu mineral dalam bentuk garam rangkap dari kalsium-magnesium karbonat akan bereaksi dengan SO2 di udara sebagai berikut:
D. Dampak Pencemaran Udara
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor dapat mengemisikan zat-zat pencemar seperti CO, NOx, SOx, debu, hidrokarbon juga timbal. Udara yang tercemar oleh zat-zat tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berbeda tingkatan dan jenisnya, tergantung dari macam, ukuran dan komposisi kimiawinya. Gangguan tersebut terutama terjadi pada fungsi faal dari organ tubuh seperti paru-paru dan pembuluh darah, atau menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Pencemaran udara karena partikel debu biasanya menyebabkan penyakit pernapasan kronis seperti bronchitis khronis, emfiesma paru, asma bronchial dan bahkan kanker paru-paru. Kadar timbal yang tinggi di udara dapat mengganggu pembentukan sel darah merah. Gejala keracunan dini mulai ditunjukkan dengan terganggunya fungsi enzim untuk pembentukan sel darah merah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya seperti anemia, kerusakan ginjal dan lain-lain. Sedangkan keracunan Pb bersifat akumulatif.
Keracunan gas CO timbul sebagai akibat terbentuknya karboksihemoglobin (COHb) dalam darah. Afinitas CO yang lebih besar dibandingkan dengan oksigen (O2) terhadap Hb menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh ini akan membuat sesak napas dan dapat menyebabkan kematian, apabila tidak segera mendapat udara segar kembali. Sedangkan bahan pencemar udara seperti NOx, SOx, dan H2S dapat merangsang pernapasan yang mengakibatkan iritasi dan peradangan.
Gambar Dampak Pencemaran Udara



SIKLUS PENCEMARAN UDARA

SIMPULAN

Pencemaran dapat terjadi dimana-mana. Bila pencemaran tersebut terjadi di dalam rumah, di ruang-ruang sekolah ataupun di ruang-ruang perkantoran maka disebut sebagai pencemaran dalam ruang (indoor pollution). Sedangkan bila pencemarannya terjadi di lingkungan rumah, perkotaan, bahkan regional maka disebut sebagai pencemaran di luar ruang (outdoor pollution).
Secara umum pencemaran udara diartikan sebagai udara yang mengandung satu atau beberapa zat kimia dalam konsentrasi tinggi sehingga menganganggu manusia, hewan, tumbuhan dan benda-benda lain dalam lingkungan.
1. Faktor-faktor penyebab pencemaran udara :
a. Kecepatan kendaraan.
b. Usia kendaraan yang lama
c. Kondisi lalu lintas
d. Kondisi atmosfir
2. Macam-macam polutan udara
a. Oksida karbon yaitu CO dan CO2.
b. Polutan yang berupa oksida belerang yaitu SO2 dan SO3
c. Polutan yang berupa oksida Nitrogen, terutama NO2
d. Sinar dan subtansi radioaktif baik yang bersumber secara alami dari kerak bumi maupun dari hasil emisi instalasi radioaktif, merupakan polutan yang berbahaya karena dapat menimbulkan gangguan pada sel dan organ tubuh lainnya yaitu berbentuk penyakit kangker dan mutasi sel.
e. Pencemaran suara timbul bila dalam lingkungan terdapat suara yang memiliki kekuatan lebih dari daya tahan manusia terhadap suara yaitu 85 desibel
f. Polutan panas, bersumber dari semua bentuk pembakaran dan panas matahari yang terperangkap bangunan kota.
g. Polutan panas, bersumber dari semua bentuk pembakaran dan panas matahari yang terperangkap bangunan kota.
3. Pencegahan pencemaran udara
a. Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil terutama yang banyak mengeluarkan asap serta gas-gass polutan lainnya, serta menggagalkan pemakaian bahan bakar yang tidak mencemarkan lingkungan.
b. Melakukan pengolahan asap sebelum dilepas keudara, misalnya dengan memasang saringan atau bahan penyerap polutan.
c. Membangun cerobong asap yang cukup tinggi hingga asap dapat menembus lapisan inverse thermal agar tidak menambah polutan yang terperangkap di ats kota atau di atas daerah pemukiman.
d. Memilih system transformasi yang efisien dan tidak menimbulkan banyak polutan. Misalnya menggunakan bensin tanpa Pb, menciptakan mesin mobil yang hemat bensin atau mengurangi angkutan pribadi dan menambah angkutan umum.
e. Memperbanyak penghijauan dan taman-taman dalam kota, agar banyak lebih banyak CO2 yang diserap tumbuhan untuk proses fotosintesis.
f. Mendorong terlaksananya peraturan pencegahan pencemaran serta pelaksanaan sanksi bagi para pelanggr aturan.
g. Pencegahan pencemaran suara dilakukan dengan melindungi tubuh dari suara yang keras dan meredam suara pada tempat atau sumber suara.










DAFTAR PUSTAKA

Laksmi prihantoro. 1989. Manusia dan Lingkungan. Bandung. FPMIPA IKIP

Rukaesih Ahmad. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta. Penerbit: ANDI

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-lingkungan/pencemaran-udara/terjadinya-pencemaran-udara-dan-penanggulangannya/
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-lingkungan/pencemaran-udara/zat-zat-pencemar-dan-pencemaran-udara/
http://ilmupedia.com/akademik/92/622-penanggulangan-pencemaran-udara.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar